Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utamaLewati ke footer
  • kemarin
JAKARTA, KOMPAS.TV - Saat di dalam negeri publik riuh soal ijazah mantan presiden Joko Widodo, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tengah menghadapi ancaman dampak tarif resiprokal 32% yang akan dibebankan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk Indonesia. Jika China meresponsnya dengan memberikan serangan tarif yang lebih besar, bahkan China minta stop terima Boeing, apakah yang akan dilakukan pemerintah Indonesia? Apakah negosiasi yang dilakukan Presiden Prabowo tokcer?

Sejumlah delegasi Indonesia tengah datang ke AS untuk melakukan negosiasi tarif Trump. Lalu mengingat kurang lebih 2 tahun terakhir Indonesia tidak punya duta besar di Amerika Serikat. Apakah langkah negosiasi tersebut efektif? Apakah sosok Sri Mulyani bisa beri efek atas sisa-sisa jasanya sewaktu di World Bank?

Nonton Juga: Tegas Sujiwo Tejo: Rakyat Indonesia Hanya Bisa Dipimpin oleh Presiden Otoriter, Kenapa? | Lanturan

Tak hanya itu, saat pemerintah fokus pada negosiasi tarif Trump, ada wacana membantu evakuasi 1000 warga Palestina di Gaza untuk dibawa ke Indonesia. Realistiskah?

Saksikan selengkapnya bersama Prof Hikmahanto Juwana, analis Hukum Internasional dalam episode "Prabowo di Pusaran Tarif Trump & Evakuasi Warga Palestina", hanya di Lanturan.

#profhikmahanto #lanturan #palestina

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/588602/full-hikmahanto-soal-prabowo-di-pusaran-gempuran-tarif-trump-evakuasi-warga-palestina-lantura
Transkrip
00:00:00Terima kasih.
00:00:30Terima kasih.
00:01:00Terima kasih.
00:01:30Terima kasih.
00:02:00Terima kasih.
00:02:30Terima kasih.
00:02:59Terima kasih.
00:03:29Terima kasih.
00:03:59Terima kasih.
00:04:29Terima kasih.
00:04:59Terima kasih.
00:05:29Sebenarnya kalau menurut saya sih, dua pertama adalah, who is the boss?
00:05:34Nah, kalau kita bicara dengan internasional, dia bilang who is the boss?
00:05:39Artinya apa? Nih, saya nih, bossnya. You semua datang ke saya. Mari kita deal. Kita tahu lah, Trump itu kan latar belakang pelaku bisnis.
00:05:50Bisnismen, jadi dia kayak main kartu. Nah, ini kayak begini. Nah, ini kayak begini. Nah, itu yang diharapkan. Mohon maaf, bahkan ngemis-ngemis ke pemerintah Amerika. Cina bilang, eh sorry ya, nggak, saya nggak mau. Uni Eropa sekarang ikut sama Cina. Kanada juga ikut. Nggak, kita nggak mau. Nggak, kita nggak mau. Nggak seperti ini caranya.
00:06:14Karena apa? Sahabat-sahabat Amerika itu sekarang berbalik arah melawan Amerika.
00:06:20Nah, Cina jelaskan udah menentang. Nah, seharusnya kalau kita pemerintah Indonesia, kalau menurut saya, tunggu aja dulu. Biarin aja dulu. Karena apa? Sekarang yang lagi bertarung itu gajah. Kita ini kan bukan gajah.
00:06:34Nah, jadi gajah besar Amerika dengan Cina. Silahkan mereka bertarung. Kita sebagai penonton yang baik. Tunggu hasilnya aja. Tunggu hasilnya seperti apa. Misalnya gini, 9 April udah ditutukan sama Trump. Pokoknya akan saya berlakukan.
00:06:54Mundur. Mundur kan? Mundur tiga bulan katanya kan? Mundur. Sementara sekarang sama Cina, oke. Cina untuk produk-produk elektronik, udah kita exam gitu ya.
00:07:05Dikecualikan. Ya kan dia mundur terus. Ini kan kayak main kartu. Siapa yang kuat, siapa yang berani kan gitu?
00:07:11Kuat-kuatan. Kuat-kuatan. Nah, dalam konteks seperti ini, karena posisi kita, ya udah kita tunggu dulu aja. Dan Trump itu dengan bangganya bilang gini, udah ada 50 negara yang mau ketemu sama saya.
00:07:21Termasuk mungkin di Indonesia. Cuman masalahnya kita nggak tahu urutan keberapa.
00:07:26Karena nggak ada dubus kita di sana, ya kan? Nah, artinya dubus kita kan harusnya dia melobby dulu sebelum Pak Hartanto dan tim datang gitu kan.
00:07:35Saya harus ini ketemu sama siapa.
00:07:38Kalau misalnya ketemu yang saya bilang, waduh, apa namanya, American Indonesian Council, Business Council atau apa.
00:07:45Apalagi duarninya kayak gitu kan. Harusnya tuh ketemu, ya sama Presiden Trump sendiri. Kan Pak Menlu Sugiono udah mengatakan bahwa sebenernya Presiden Prabowo sudah siap untuk ketemu.
00:07:58Kapan ketemu? Tapi kan nggak dikasih. Ingat ya, saya mengatakan seperti ini. Kenapa? Bukan main tebak-tebakan nggak.
00:08:06Saya lihat Presidennya, Zelensky. Zelensky kemarin dia datang ke Trump. Intinya dari dia, dia minta security guarantee.
00:08:16Trump bilang, saya kasih security guarantee. Eh bukan, dia nggak mau security guarantee. Pokoknya udahlah kamu damai aja sama Rusia.
00:08:22Tapi saya minta konsesi ini. Ya kan? Di Ukraina Timur. Ya kan? Udah kayak free pot aja.
00:08:28Otaknya orang otak pedagang ya. Otaknya orang otak pedagang.
00:08:31Mungkin dia lihat dulu Amerika minta free pot, bisa kan. Dia minta konsesi.
00:08:35Dia minta konsesi. Udah minta konsesi. Datang, Zelensky bilang, oke kamu saya kasih konsesi.
00:08:39Tapi syaratnya, saya minta security guarantee. Karena dia tahu si Zelensky ini, Trump ini beda sama Joe Biden.
00:08:45Dan kemungkinan besar dia akan dekat sama Rusia. Kan Trump marah pada waktu itu. Rami gini-gini.
00:08:50Akhirnya kan nggak jadi deal. Nama juga pedagang. Dia bilang, udah pergi aja dulu. Nanti dia bakalan datang.
00:08:56Bener datang. Di Kongres, Trump bilang, apa? Zelensky udah mau ketemu sama saya. Dia mau tandatangan.
00:09:03Coba. Kan kayak gitu. Itu yang pertama tuh. Baru-baru ini ada soal Iran. Negosiasi nuklir. Ya kan?
00:09:11Kalau misalnya nggak deal, katanya Trump, saya serang Iran, saya bom Iran.
00:09:16Teheran. Coba.
00:09:18Iran bilang, saya lawan.
00:09:20Ya kan?
00:09:21Nah, artinya terangnya saya tahu, oh ini kayak pelaku bisnis.
00:09:25Jadi harusnya pemerintah kita, para menteri yang membantu Bapak Presiden juga melihat ini fenomena itu seperti apa.
00:09:32Oh ini kayak gini modelnya. Lalu bagaimana kita bersihkan?
00:09:36Betul kalau misalnya ini bilateral kita dengan Amerika. Lalu kita bilang, kenapa apa salah saya.
00:09:41Lalu kita bicara, oke gimana caranya supaya kita bisa perbaiki ini semua.
00:09:45Tapi kalau minah ini semua, saya ambil contoh ya. Salah satu andalan ekspor kita ke Amerika itu minyak sawit. Di dunia ini mungkin Indonesia dengan Malaysia.
00:09:59Nah, saya lihat Malaysia, itu juga dikenakan tarif yang sama besarnya sama Indonesia kan. Artinya apa? Artinya kalau misalnya kita diem aja, rakyat Amerika harus membayar lebih mahal.
00:10:13Karena pertanyaan saya, emang ada perusahaan lain di negara lain gitu yang suplai? Kan nggak mungkin. Kalau misalnya nggak ada, mati aja dia.
00:10:22Di demo sama nanti rakyatnya, satu. Sudah kan? Sudah. Sudah. Bahkan sekarang sama salah satu anggota Kongres Partai Demokrat itu minta diimpi.
00:10:33Itu kan udah mulai. Terus di apa? Di hajar sama siapa? Sama bursa. Sama bursa di hajar.
00:10:40Di Amerika Serikat itu, orang kalau kaya, uang itu disimpan bukan kayak orang Indonesia, buat kos-kosan.
00:10:46Tapi dia masukkan ke bursa. Di hajar sama bursa, wah langsung Trump bilang, oke kita pos 90 hari.
00:10:55Iya kan? Nah sekarang ditambah kekanan-kekanan dari negara. Jadi kalau menurut saya, harusnya tunggu aja dulu.
00:11:02Selesaikan dulu nih Amerika sama Cina dulu. Kita mau tahu nih endingnya seperti apa.
00:11:07Tunggu aja. Tunggu aja. Daripada nanti sana Pak Erlangga datang ke Amerika, tunggu-tunggu nggak ada ini kan.
00:11:14Kasihnya yang pejabat-pejabat kita. Belum tentu berhasil juga kan.
00:11:18Belum tentu berhasil. Tapi kaitannya sama dua gajah yang sedang dalam tanda kutip bertarung lah ini ya.
00:11:23Dalam perang tarif ini. Kalau ada pepatah kan kalau gajah besar digigit semut merah juga teriak gitu.
00:11:31Kalau dengan keadaan seperti ini, bisa kan kita jadi semut merah nih?
00:11:37Dengan misalnya tadi sawit misalnya tadi kondisinya seperti itu kira-kira.
00:11:41Pertanyaan siapa yang mau digigit nih gajah.
00:11:43Udah lah nggak usah. Nggak usah pakai gigit-gigitan.
00:11:46Kita tunggu aja. Endingnya seperti apa.
00:11:49Kita nggak tahu ya mungkin ke depan ini Trump akan berbalik.
00:11:54Mungkin satu. Kemungkinan berikutnya ya rakyat Amerika akan menyelesaikan Trump itu secara ketatanegaraan.
00:12:00Impage.
00:12:02Impage gitu kan misalnya. Kita juga nggak tahu.
00:12:04Atau mungkin yang lainnya adalah ya ada kompromi antara Amerika dengan Cina dulu.
00:12:12Jadi itu yang kita harus tunggu. Kita harus sabar dulu.
00:12:16Kan ini juga belum jalan. Ngapain kita buru-buru datang ke sana?
00:12:19Artinya kita terlalu tergesa sebenarnya ya.
00:12:22Terlalu tergesa.
00:12:23Ketika mengaturkan untuk negosiasi, membangkitkan tim.
00:12:26Mohon maaf ya diperberat lagi dengan ketika Bapak Presiden mau melakukan lawatan ke Timur Tengah.
00:12:33Timur Tengah.
00:12:34Timur Tengah.
00:12:35Munculkan ide evakuasi seribu warga.
00:12:39Aduh mati saya bilang.
00:12:40Itu kan banyak yang menilai jangan-jangan itu adalah semacam pemanis.
00:12:46Pemanis.
00:12:47Biar negosiasi tim kita itu bisa dieksekusi oleh Trump.
00:12:52Ini kalau dari ilmu cocokologi.
00:12:57Dicocok-cocokkan.
00:12:58Orang akan mengatakan seperti itu.
00:13:00Jadi seolah-olah Bapak Presiden akan memunculkan evakuasi seribu orang.
00:13:05Dan itu diminta dukungannya ke negara-negara yang beliau datangi.
00:13:11Mudah-mudahan mungkin yang lain juga bilang.
00:13:13Yaudah saya seribu, seribu, seribu.
00:13:15Hari ini berarti misalnya sama Indonesia 6.
00:13:186 ribu.
00:13:19Besok-besok tambah lagi di dobel.
00:13:22Besok-besok.
00:13:23Nah dalam hati saya.
00:13:24Kalau kayak begini.
00:13:26Sampai hari ini.
00:13:27Israel menghabisi rakyat Palestina 50 ribu.
00:13:31Pakai apa? Senjata.
00:13:32Berbiaya nggak? Biaya.
00:13:34Kemudian yang kedua.
00:13:35Dihabisi dengan kritikan-kritikan dari masyarakat internasional.
00:13:39Kritikan-kritikan yang membahayakan warganya.
00:13:42Sekarang kalau misalnya kemarin saya lihat di Maldives katanya.
00:13:47Ada orang Israel mau masuk.
00:13:48Nggak boleh.
00:13:50Orang Israel di Vietnam.
00:13:52Oh kamu Israel.
00:13:53Nggak. Saya nggak mau layani kamu.
00:13:54Coba.
00:13:55Ini tindakan dari Netanyahu berdampak pada warganya.
00:13:59Karena apa?
00:14:00Masyarakat dunia kalau marah sama Israel sekarang melampiaskannya bukan ke Netanyahu.
00:14:04Ke warganya.
00:14:06Dan kalau dengan kondisi sebegitu.
00:14:08Israel yang senang dong kalau kita nampung keluar isri luar jawa Palestina.
00:14:11Nah itu lah makanya itu.
00:14:12Israel dan Trump.
00:14:13Coba bayangkan.
00:14:14Ya.
00:14:1550 ribu dengan kekejaman.
00:14:16Dengan senjata.
00:14:17Dituduh genusi dan lain sebagainya.
00:14:19Sekarang kalau misalnya evakuasi.
00:14:21Manusiawi.
00:14:23Kan gitu kan.
00:14:24Bagus gitu.
00:14:25Kan harusnya.
00:14:26Mohon maaf ya.
00:14:27Ini yang salah nih sebenarnya bukan Bapak Presiden.
00:14:30Ya Presiden can do no wrong.
00:14:32Presiden nggak boleh salah gitu kan.
00:14:34Yang salah siapa?
00:14:35Pemisiknya.
00:14:36Pemisiknya.
00:14:37Penasehatnya.
00:14:38Siapa Prof?
00:14:39Saya nggak tahu.
00:14:40Tanya saya.
00:14:41Tapi gini.
00:14:42Kan.
00:14:43Kalau misalnya bagi rakyat Palestina.
00:14:45Yang dimasalahkan itu kan bukan masalah agama.
00:14:47Iya.
00:14:48Tapi masalah perubutan tanah.
00:14:50Nah sekarang.
00:14:51Netanyahu.
00:14:52Dia bilang.
00:14:53Kita menang dalam perang kita kali ini.
00:14:56Kalau tiga hal tercapai.
00:14:58Satu.
00:14:59Apa namanya.
00:15:01Sandra dibebaskan.
00:15:02Kedua.
00:15:03Petinggi-petinggi Hamas dihabisin.
00:15:07Ketiga.
00:15:08Gaza harus dikosong.
00:15:09Kenapa?
00:15:10Gaza dikosongin once and for all.
00:15:13Karena kalau tidak.
00:15:15Di masa-masa yang akan datang.
00:15:17Dari Gaza akan diluncurkan lagi.
00:15:19Rudal-rudal.
00:15:20Kalau tidak ada Hamas.
00:15:21Nah sekarang.
00:15:22Karena Trump bilang.
00:15:23Waktu awalnya si.
00:15:24Steve Wyckoff.
00:15:26Ya.
00:15:27Utusannya Trump bilang.
00:15:28Dua juta akan dikirim ke Indonesia.
00:15:30Wah.
00:15:31Bagi kita.
00:15:32Ya mungkin waktu itu masyarakat belum paham ya.
00:15:34Alhamdulillah.
00:15:35Ya Allah.
00:15:36Ayo boleh.
00:15:37Gala mati saya.
00:15:38Mati saya bilang.
00:15:39Ini.
00:15:40Rakyat kita nih mikir nggak nih.
00:15:41Bahwa yang akan kehilangan.
00:15:43Dari rakyat Palestina itu adalah tanah.
00:15:46Justru akan hilang.
00:15:48Betul.
00:15:49Kita berkaji aja pada diri kita.
00:15:51Ya.
00:15:52Lagu kebangsaan kita.
00:15:53Kan tanah airku.
00:15:54Ya.
00:15:55Baru bangsaku.
00:15:56Baru negeriku.
00:15:57Amerika aja.
00:15:59The land of the free katanya.
00:16:01Land.
00:16:02Tanah dulu kan.
00:16:03Nah sekarang mereka mau dicabut dari tanahnya.
00:16:06Menurut saya nggak logis.
00:16:08Kalau misalnya seperti itu.
00:16:09Dan ini kan manusiawi sekali kan.
00:16:11Nggak usah pakai senjata.
00:16:13Nggak usah di evakuasi.
00:16:14Senang banget Israel.
00:16:15Nah.
00:16:16Bukan dilakukan oleh Amerika atau Israel.
00:16:18Tapi oleh Indonesia.
00:16:19Negara Islam terbesar di dunia.
00:16:21Ya.
00:16:22Nah itu yang.
00:16:23Ya Allah.
00:16:24Saya bilang.
00:16:25Makanya.
00:16:26Saya sih berharap.
00:16:27Memang kemarin ketika Bapak Presiden sudah kembali.
00:16:29Ya.
00:16:30Joko Mulkam mengatakan bahwa.
00:16:33Ya ini akan ada pembahasan.
00:16:35Saya sih berharap ya.
00:16:37Tidak usahlah dibahas.
00:16:38Karena apa.
00:16:39Kita nggak mau kalau misalnya.
00:16:41Rakyat Palestina itu harus meninggalkan tanah mereka.
00:16:44Iya.
00:16:45Satu.
00:16:46Yang kedua.
00:16:47Bagi kita.
00:16:48Biayanya akan besar.
00:16:49Ya.
00:16:50Untuk membawa seribu orang.
00:16:51Seribu orang itu pertanyaan.
00:16:52Itu dari Gazanya di dalam Gaza.
00:16:54Atau di luar Gaza.
00:16:55Di perbatasan.
00:16:56Kalau yang ada di dalam Gaza.
00:16:57Ya kan.
00:16:58Itu.
00:16:59Kalau kita nggak diserang sama Israel.
00:17:01Orang akan bilang.
00:17:02Eh.
00:17:03Pantes nih Indonesia nih.
00:17:04Antek ya.
00:17:05Iya.
00:17:06Kalau hubungan internasional itu.
00:17:07Masalah persepsi.
00:17:08Bukan kayak orang hukum.
00:17:09Kayak saya ini orang hukum nih.
00:17:10Fakta dan bukti.
00:17:11Selaluhan gitu.
00:17:12Kalau orang hubungan internasional.
00:17:13Itu.
00:17:14Ilmu cocokologi itu.
00:17:15Seperti apa nih.
00:17:16Iya kan.
00:17:17Jadi bahayanya itu adalah.
00:17:19Kalau kemudian kita di persepsikan.
00:17:21Sebagai.
00:17:22Kepanjangan tangan.
00:17:23Dari Israel.
00:17:25Dari Amerika.
00:17:26Ini kan dianggap sama proksi.
00:17:27Nah Bapak Presiden itu akan kerepotan.
00:17:30Menghadapi dunia.
00:17:31Tapi juga menghadapi.
00:17:32Internal.
00:17:33Rakyat kita sendiri.
00:17:34Yang pasti.
00:17:35Mereka tidak akan setuju.
00:17:36Nah ini yang.
00:17:37Seharusnya para pembisi.
00:17:39Para.
00:17:40Apa namanya.
00:17:41Yang bisa memberikan rekomendasi kepada Bapak Presiden.
00:17:44Bisa memberikan perspektif.
00:17:45Udah lah Bapak Presiden.
00:17:46Apalagi kan udah muter.
00:17:48Gak dibeli istilahnya ya.
00:17:51Cualanya gak dibeli ya.
00:17:52Menlu Turki.
00:17:53Mengatakan bahwa.
00:17:54Enggak.
00:17:55Rakyat Palestina harus tetap di Palestina.
00:17:57Ya.
00:17:58Belum lagi di negara-negara lain.
00:17:59Jordan juga enggak ya.
00:18:01Nah itu.
00:18:02Itu dari sisi.
00:18:04Relasi internasional.
00:18:06Sementara kalau dari sisi kondisi ekonomi.
00:18:08Itu kan juga akan.
00:18:09Berdampak.
00:18:10Buat masa kita kan.
00:18:11Iya.
00:18:12Itu kan keseranya sederhana.
00:18:13Pertanyaan orang.
00:18:14Lah emang.
00:18:15Masyarakat kita sendiri udah tercukupi nih.
00:18:17Kebutuhannya.
00:18:18Kesateraannya.
00:18:19Kok bawa orang.
00:18:20Untuk datang ke sini.
00:18:21Untuk kita kasih.
00:18:22Hidup gitu loh.
00:18:23Itu pertanyaannya.
00:18:24Gini.
00:18:25Jadi.
00:18:26Kita.
00:18:27Pastilah.
00:18:28Punya keperbiakan terhadap Palestina.
00:18:29Layar Palestina.
00:18:30Sekarang pertanyaannya.
00:18:31Dalam mengambil opsi ini.
00:18:32Lebih murah mana.
00:18:33Kita akan keluarkan seribu orang.
00:18:35Ya.
00:18:36Dengan biaya kita sendiri.
00:18:37Tanpa bantuan dari negara-negara sana.
00:18:39Yang lain ya.
00:18:40Karena mereka gak setuju.
00:18:41Atau.
00:18:42Mengirimkan.
00:18:43Satuan-satuan kesehatan.
00:18:44Dari TNI.
00:18:45Bikin rumah sakit.
00:18:46Bikin rumah sakit sementara lain sebagainya.
00:18:47Seperti waktu.
00:18:48Pak Prabowo jadi Penhat.
00:18:49Itu kan lebih.
00:18:51Lebih.
00:18:52Bisa diterima oleh akal.
00:18:53Ya.
00:18:54Di sana.
00:18:55Dan itu juga gak di.
00:18:56Wilayah yang digazanya.
00:18:58Tetapi kan di.
00:18:59Perbatasan.
00:19:00Kemarin.
00:19:01Pak Menlu juga bilang.
00:19:02Ya nanti.
00:19:03Pokoknya kita rawat di sini.
00:19:04Nanti kalau sudah sebut.
00:19:05Nanti kita kembalikan.
00:19:06Itu gimana tuh.
00:19:07Kembalikan gimana ceritanya.
00:19:09Orang itu udah di.
00:19:10Apa aja.
00:19:11Dibatasi sama tentara-tara Israel.
00:19:13Jadi kalau udah kesini ya susah.
00:19:14Masuk lagi.
00:19:15Ya.
00:19:16Kapan.
00:19:17Habis itu katanya.
00:19:18Sampai dengan nanti situasi sudah kondusif.
00:19:19Ya Allah.
00:19:20Kapan kondusif kalau di sana itu.
00:19:22Dari tahun jebot juga gak kondusif-kondusif.
00:19:23Kapan kondus.
00:19:24Kapan kondus.
00:19:25Jadi.
00:19:26Saya berharap.
00:19:27Bahwa.
00:19:28Tolong dipikirkan secara gitu.
00:19:29Kalau menurut Profit.
00:19:30Apa sebenarnya motivasi.
00:19:32Presiden ingin mengevakuasi warga Gaza ke Indonesia ya.
00:19:36Nah ini kalau dari perspektif jocokologi lagi.
00:19:38Oke.
00:19:39Ada masyarakat yang mengatakan.
00:19:41Jangan-jangan ini.
00:19:42Bargaining chip untuk bernegosiasi dengan Amerika.
00:19:45Tukar guling gitu.
00:19:46Sepasang tukar guling gitu.
00:19:47Tukar guling gitu.
00:19:48Eh Amerika.
00:19:49Saya lakukan ini.
00:19:50You are happy with this right?
00:19:52Ketanya.
00:19:53Now make me happy.
00:19:54Yaitu.
00:19:55Put down the tariff.
00:19:57Lower down the tariff.
00:19:58Nah itu yang.
00:20:00Ya boleh dibilang.
00:20:02Transaksional terhadap prinsip.
00:20:05Kenapa saya bilang prinsip?
00:20:06Karena.
00:20:07Bagi kita.
00:20:08Indonesia.
00:20:09Kita membantu.
00:20:10Palestina.
00:20:11Itu sesuai dengan konstitusi kita.
00:20:14Bahwa yang namanya penjajahan.
00:20:16Harus dihapuskan.
00:20:17Di bumi ini kan.
00:20:18Nah jadi kalau misalnya transaksional itu dijadikan transaksional kan.
00:20:22Kasih dong rakyat Palestina.
00:20:24Ya kan.
00:20:25Jadi tidak tulus kita membantu mereka ya.
00:20:27Betul.
00:20:28Ada motif apa.
00:20:29Tariff tadi.
00:20:30Belum lagi kan.
00:20:31Masalah seperti ini.
00:20:32Apakah sudah dikonsultasikan dengan pemerintah Palestina.
00:20:35Ya kan.
00:20:36Apakah pemerintah Palestina setuju dengan cara seperti ini.
00:20:39Nah ini kan harusnya dikonsultasikan dulu.
00:20:42Lalu kemudian.
00:20:43Bagaimana reaksi dari pemerintah Palestina.
00:20:45Kan ada duta besarnya di sini.
00:20:47Lalu kemudian sebelum Bapak Presiden.
00:20:50Berangkat itu sudah di briefing.
00:20:52Kira-kira begini-begini.
00:20:53Mungkin atau tidak mungkin.
00:20:54Kalau tidak mungkin ya sudah jangan.
00:20:56Tapi sekarang sudah muter.
00:20:58Sudah ditolak.
00:20:59Ya sudah.
00:21:00Menurut saya ya sudah gak usah dilanjutkan.
00:21:03Kalau mau bantu ya itu.
00:21:04Kirim tenaga kesehatan.
00:21:06Bangun rumah sakit.
00:21:07Kirim bantuan.
00:21:08Ya.
00:21:09Oke.
00:21:10Ini ada yang komen nih.
00:21:12Prof juga nih.
00:21:13Dari.
00:21:14Siapa dia.
00:21:15As Z.
00:21:16Katanya.
00:21:17Salut sama Tiongkok.
00:21:19Apa.
00:21:20Laut Retail Lion.
00:21:22Maksudnya apa nih.
00:21:23Meski dihajar tarif Trump.
00:21:24145%.
00:21:25Tidak gentar mempertahankan dignity.
00:21:28Senada dengan Prof Rikmahanto.
00:21:30Kalau jadi pelanduk.
00:21:31Pelanduk.
00:21:32Jangan sok jago.
00:21:33Mati gajah bertarung.
00:21:34Hahaha.
00:21:35Hahaha.
00:21:36Ada yang komen gitu.
00:21:37Hahaha.
00:21:38Jadi.
00:21:39Maksudnya kita pelanduk gitu ya.
00:21:41Hahaha.
00:21:42Gini pelanduk.
00:21:44Iya.
00:21:45Tapi memang.
00:21:46Kalau.
00:21:47Kita harus paham ya.
00:21:48Kalau Tiongkok berani mengatakan seperti itu.
00:21:49Karena.
00:21:50Memang dari segi bangsa pasar itu besar sekali mereka.
00:21:52Iya.
00:21:53Jadi saya harus cerita dulu nih.
00:21:55Tahun 1944.
00:21:57Pada waktu para pemenang perang berkumpul.
00:22:00Di Bretton Woods di Amerika.
00:22:02Mereka udah memikirkan isu yang seperti sekarang ini.
00:22:04Yaitu.
00:22:05Yang akan jadi perebutan antar negara.
00:22:08Bukan lagi wilayah.
00:22:09Bukan lagi masalah pengaruh agama dan lain sebagainya.
00:22:12Walaupun di intervensi dengan perebutan ideologi kan.
00:22:16Barat dan timur.
00:22:17Tapi apa.
00:22:18Masalah perebutan pangsa pasar.
00:22:20Oleh karena itu.
00:22:22WTO.
00:22:23Terus GAT.
00:22:24Itu dibuat.
00:22:25Sebenarnya.
00:22:26Dulu namanya belum.
00:22:27WTO.
00:22:28ITO.
00:22:29Tapi gagal.
00:22:30Terus kemudian.
00:22:31WTO.
00:22:32Nah itu dibuat.
00:22:33Nah sekarang coba.
00:22:34Sekarang lihat.
00:22:35Kalau udah negara besar berantem kayak begini.
00:22:36WTO.
00:22:37Gak apa-apa lain.
00:22:38Emang pada mau gini.
00:22:39Giliran kita sama Uni Eropa dihabis-habisin.
00:22:42Saya bilang brengsek emang.
00:22:44Udahlah gak usah.
00:22:45Percaya lagi sama negara-negara barat itu kan.
00:22:48Bilang begini.
00:22:49Kita diceramain.
00:22:50Sekarang giliran.
00:22:51Sudah kita diceramain.
00:22:52Dia sendiri kayak begitu.
00:22:54Standar ganda.
00:22:55Yang malu itu tau gak.
00:22:56Uni Eropa.
00:22:57Karena Uni Eropa itu.
00:22:58Yang meminta.
00:22:59Kita.
00:23:00Untuk ikut di dalam.
00:23:02International Criminal Court.
00:23:03Statuta.
00:23:04Ya kan.
00:23:05Udah.
00:23:06Kita padahal nolak-nolak terus.
00:23:07Walaupun di dalam negeri.
00:23:08Ada juga komponen yang bilang.
00:23:09Udah.
00:23:10Saya termasuk salah satu yang.
00:23:11Nolak gitu ya.
00:23:12Nah.
00:23:13Sekarang.
00:23:14Netanyahu pergi ke Hungaria nih.
00:23:16Hungaria kan di Uni Eropa nih.
00:23:18Ya.
00:23:19Gak diapa-apain.
00:23:20Gak dikirim.
00:23:21Hah.
00:23:22Saya bilang mati aja lu.
00:23:23Hahaha.
00:23:24Coba.
00:23:25Mereka akhirnya.
00:23:26Apa namanya.
00:23:27Menlu Jerman.
00:23:28Kalau gak salah.
00:23:29Pokoknya dari Jerman.
00:23:30Seharusnya Hungaria tidak melakukan seperti itu.
00:23:32Harusnya begini-begini.
00:23:33Dibalas lagi sama Trump nanti kan.
00:23:35Ya.
00:23:36Ini nih.
00:23:37Dia maunya berprinsip.
00:23:39Ya kan.
00:23:40Si Uni Eropa ini.
00:23:41Ternyata.
00:23:42Ya itu.
00:23:43Kalau misalnya udah ada kepentingan.
00:23:44Ilang juga prinsipnya.
00:23:45Tapi ngeliat.
00:23:47Gaya.
00:23:48Apa.
00:23:49Politiknya Pak Prabowo di.
00:23:50Kancah Internasional.
00:23:51Kalau dulu.
00:23:52Flashback sedikit.
00:23:54Kalau Pak SBY jadi presiden kan.
00:23:56Kayaknya semua orang tahu.
00:23:57Afiliasinya US banget gitu kan.
00:23:59Terus.
00:24:00Ada lulusan sana.
00:24:01Lulusan sana.
00:24:02Pak Jokowi sepertinya Tiongkok banget gitu kan.
00:24:04Nah kalau Pak Prabowo ini kemana?
00:24:05Timur Tengah banget atau?
00:24:07Atau apa nih?
00:24:08Ya mungkin.
00:24:09Ada bagusnya juga.
00:24:10Pak Prabowo bilang mungkin juga ya.
00:24:11Amerika mungkin gak bisa terlalu diandalkan.
00:24:15Tidak terlalu bisa diandalkan.
00:24:16Kemudian Cina juga.
00:24:18Nah nanti dalam negeri kita bermasalah.
00:24:20Ya udah.
00:24:21Sekarang kita coba di Timur Tengah.
00:24:22Oke.
00:24:23Jadi bagusnya adalah seperti itu.
00:24:24Oke.
00:24:25Ya kan.
00:24:26Bahwa ada alternatif.
00:24:27Yang mungkin selama ini tidak dieksplore.
00:24:29Sebenarnya sih sudah mulai dieksplore jamannya Pak Jokowi.
00:24:33Ya kan.
00:24:34Tapi sekarang mungkin lebih diperdalam lagi.
00:24:36Karena apa?
00:24:37Ya.
00:24:38Karena Pak Prabowo memang sudah lama di Jordania.
00:24:41Ya.
00:24:42Jadi mungkin juga ada kedekatan-kedekatan Rio dengan pemimpin di Timur Tengah.
00:24:48Dan itu kan kerajaan.
00:24:49Jadi turun-temurun.
00:24:50Paling gak saling kenal lah gitu kan.
00:24:52Nah jadi menurut saya bagus.
00:24:54Tapi apa untungnya kita membangun hubungan baik dengan Timur Tengah.
00:24:57Secara politik, secara ekonomi.
00:24:59Ya yang pasti adalah kita berharap uang dari mereka masuk ke Indonesia.
00:25:04Dalam bentuk investasi.
00:25:05Oke.
00:25:06Misalnya seperti itu.
00:25:07Kalau kita Amerika-Amerika kalau misalnya kita tanya kamu ini.
00:25:10Udah gak ada duit lagi.
00:25:11Ya kan.
00:25:12Tiongkok saya punya banyak duit.
00:25:14Tapi string attached-nya itu banyak.
00:25:16Syarat-syaratnya banyak.
00:25:17Termasuk salah satunya adalah bagaimana kita harus menyerap tenaga kerja di Cina.
00:25:23Karena gini.
00:25:24Di Cina itu 1,4 miliar.
00:25:26Workforce-nya itu.
00:25:28Yang bisa bekerja.
00:25:30Itu 780 juta.
00:25:32Bayangin 780 juta.
00:25:34Kita penduduk 270 juta.
00:25:36Penduduk semua kan.
00:25:37Gak mungkin kerja semua.
00:25:39780 juta.
00:25:40Katakanlah kalau bisa dicerap.
00:25:42Saya gak tau.
00:25:43400-500 juta rakyat di Cina.
00:25:45Sisanya kemana?
00:25:46Nah disinilah pintarnya Cina mereplikasi sebenarnya apa yang dilakukan oleh Amerika, Jepang.
00:25:52Dia kasih bantuan.
00:25:53Tapi dengan catatan kontraktor dari saya, tenaga kerja dari saya dan sebagainya.
00:25:58Cuman kalau Amerika atau Jepang itu kan kelas menengah keatasnya.
00:26:02Yang jadi tenaga kerja.
00:26:04Kalau yang dibawa gak usah.
00:26:05Tapi kalau di Indonesia awal di Jepang.
00:26:06Tapi kalau di Indonesia awal di Jepang.
00:26:07Ambil semua.
00:26:08Mungkin produk Cina nih bro.
00:26:10Produk Cina itu kan.
00:26:11Tadi kan Cina pintarnya berbisnisnya dengan cara yang seperti itu.
00:26:14Produk Cina ya sekarang kita tahu meranjalela.
00:26:16Wah beli istrik dimana-mana produk Cina.
00:26:19Eh tapi yang melempem yang keos malah.
00:26:21Masuk.
00:26:22Produk lokal.
00:26:23Free text misalnya.
00:26:24Tutup.
00:26:25Karena produk-produk Cina yang kalau bicara soal konveksi itu lebih murah.
00:26:30Pastinya juga lebih murah.
00:26:31Gimana kalau kayak gitu.
00:26:32Apakah timur tengah juga akan seperti itu.
00:26:34Aku ada harapan lebih positif dari kerjasama.
00:26:37Ya memang kalau misalnya pintarnya Cina nih ya.
00:26:41Saya lihat ya.
00:26:42Kan dia bagaimana memikirkan menghidupi 1,4 miliar.
00:26:47Ya kan.
00:26:48Oleh karena itu pemerintah Cina itu membuka diri.
00:26:52Dan mereka bareng yang dijual.
00:26:55Itu mulai dari bareng kelontong.
00:26:57Sikat gigi.
00:26:58Mohon maaf pakaian dalam.
00:27:00Betul.
00:27:01Tapi ingat ya.
00:27:02Sikat gigi pakaian dalam.
00:27:03Itu sampai kiamat nanti.
00:27:04Masih kita butuhkan.
00:27:05Terpakai.
00:27:06Betul.
00:27:07Kalau kita jual batu bara.
00:27:08Suatu hari nanti habis.
00:27:09Habis.
00:27:10Iya kan.
00:27:11Nah jadi itu.
00:27:12Belum lagi mereka masuk ke teknologi-teknologi tinggi.
00:27:14Kereta cepat.
00:27:15Mobil.
00:27:16Basic needs ya kalau Cina tuh.
00:27:17Pinternya basic needs.
00:27:18Basic needs.
00:27:19Dia masuk ke situ.
00:27:20Udah itu ada BRI.
00:27:21Dia akan bantu di negara-negara ini.
00:27:23Supaya apa?
00:27:24Dia yang penting adalah ada demand.
00:27:26Karena dengan ada demand pasti harus ada supply dong.
00:27:29Nah supply nya dari mana?
00:27:30Ya dari Cina.
00:27:31Nah terus kemudian merekrut banyak tenaga kerja dari Cina.
00:27:35Nah itu yang buat negara itu makmur sebenarnya.
00:27:38Nah bahwa itu harus bersaing dengan perusahaan-perusahaan lokal di Indonesia.
00:27:44Sobiet menurut mereka.
00:27:46Kalau perlu udah mati aja.
00:27:48Iya kan.
00:27:49Nah ini sekarang.
00:27:50Bagaimana kita di Indonesia harus bisa melindungi pelaku-pelaku usaha kita.
00:27:57UMKM.
00:27:58Nah ini para menteri ini kerjanya ini harus bener-bener bisa.
00:28:01Bagaimana nih menghadapi fenomena seperti ini.
00:28:04Jangan bergantung pada misalnya uang dari Cina dipinjamkan.
00:28:09Terus nanti kita kembalikan gitu ya.
00:28:11Kita dapet ini dapet itu.
00:28:13Tapi industri kita mati.
00:28:16Nah sekarang misalnya tekstil.
00:28:18Tekstil itu Amerika itu memberikan kita fasilitas lah kisimewaan.
00:28:22Kita bisa lebih besar ya kuotanya.
00:28:25Nah tapi banyak nih perusahaan-perusahaan tekstil.
00:28:27Karena mohon maaf tenaga kerja kita sangat demokratis.
00:28:33Dikit-dikit mogok dan lain sebagainya.
00:28:36Akhirnya pelaku saya udah mulai cabut.
00:28:39Atau misalnya mereka udah.
00:28:41Udah deh saya nggak akan produksi.
00:28:44Tapi yang penting saya kan punya sertifikat nih.
00:28:47Itu masuk tuh dari Cina dari Taiwan.
00:28:50Masuk ke Indonesia untuk langsung di ekspor.
00:28:52Seperti kayak iPhone.
00:28:53iPhone kena tarif kan oleh Amerika.
00:28:56Sekarang perusahaan iPhone di Cina itu ngirim ke India.
00:29:01Masukin dari sana.
00:29:03Itu kira-kira seperti itu.
00:29:05Pakai sertifikat.
00:29:06Ya, sertifikat of origin.
00:29:08Yang mengatakan bahwa ini produk asal dari mana.
00:29:11Oh ini dari Indonesia.
00:29:12Itu yang membuat tekstil kita itu mungkin juga salah satunya drop.
00:29:16Belum lagi nanti keramik-keramik.
00:29:19Ya kan? Dari Cina.
00:29:21Itu masuk ke sini membanjiri.
00:29:23Sehingga Pak.
00:29:25Produsen-produsen kita harus berhadapan dengan produk-produk yang.
00:29:30Kalau keramik dari Cina itu kan 2 ribuan tahun yang lalu.
00:29:33Udah jago mereka.
00:29:34Ya sunk costnya itu udah.
00:29:36Dan pemberitaan Cina itu kabarnya punya keperbiakan yang kongrit.
00:29:40Terhadap UKM-UKM.
00:29:42Pungsan-pungsan di sana misalnya.
00:29:44Dengan membebaskan pajak segala macem.
00:29:46Sementara di Indonesia.
00:29:48Sekarang orang kalau misalnya mohon maaf ya.
00:29:50Beli di Tokopedia misalnya atau apalah gitu ya.
00:29:53Kan ada tulisannya pre-order.
00:29:55Itu dari Cina itu langsung.
00:29:57Ya kan?
00:29:58Sekarang negara di Indonesia ini.
00:30:00Bisa kehilangan pemasukan dari pengenaan biaya.
00:30:04Terhadap barang.
00:30:06Ya kan harusnya masuk barang.
00:30:08Biasanya oleh importer.
00:30:10Importer itu yang akan dikenakan.
00:30:12Tapi kalau sekarang peer to peer langsung.
00:30:14Wah selesai urusannya udah.
00:30:16Prof tapi ngomong-ngomong nego.
00:30:19Kan tadi seharusnya ya jangan terlalu cepet-cepet lah.
00:30:22Lihat dulu nih apa Amerika dan Cina nih.
00:30:24Tapi kan sekarang udah gandung ngirim 6 mutusan.
00:30:27Dan salah satunya Igu Sri Mulyani.
00:30:29Igu Sri Mulyani kan kita tahu pernah punya posisi di World Bank.
00:30:33Kira-kira.
00:30:35Itu mentereng lah posisinya gitu.
00:30:37Ada ngaruhnya nggak tapi buat negosiasi ini kira-kira?
00:30:40Di bawah Trump nggak ada.
00:30:43Mana ada di bawah Trump.
00:30:45Mau namanya kita punya hubungan apa dan lain sebagainya nggak ada di bawah Trump.
00:30:49Murni tukang berdagang.
00:30:50Iya berdagang bener.
00:30:51Pokoknya dia kepentingannya adalah how to make America greater.
00:30:55Saya nggak mau di elus-elus dengan oh dia kan lulusan Amerika.
00:30:59Oh dia pernah ada di Amerika lama.
00:31:01Apalagi dia memang katanya sangat tidak suka dengan imigran kan.
00:31:05Nanti imigran kan.
00:31:06Oh iya sekarang kan banyak juga yang di ulangin.
00:31:09Ulangin terus beberapa lembaga juga langsung di stop kan.
00:31:13Iya.
00:31:14di USAID misalnya terus VOA juga dipangkas-pangkas.
00:31:18Sekarang ini kalau misalnya tim perunding kita berhasil lah ketemu sama Trump.
00:31:23Bukan Trumpnya.
00:31:24Trump sih nanti belakangan.
00:31:26Belakangan.
00:31:27Yang di bawah-bawah.
00:31:28Yang di bawah belakangnya oke oke oke.
00:31:30Naik ke atas nggak akan sama.
00:31:32Bahkan kalau misalnya sekarang ini kan banyak juga ada lay off ya.
00:31:36Di PHK nih pegawai-pegawainya dan lain sebagainya.
00:31:39Dan orang-orang yang tidak setuju dengan Trump pasti kenal ya orang.
00:31:42Ya jangan nanti yang ngadepin Elon Musk lagi.
00:31:44Bukan Trump bilang masih ngadepin.
00:31:48Tapi Prof tadi kan soal pergeseran kiblat hubungan ya.
00:31:56Nah timur tengah.
00:31:58Nah misalnya kaitannya dengan posisi Indonesia yang sekarang masuk gabung di BRICS misalnya.
00:32:03Itu bagaimana Prof Fik melihat?
00:32:05Gini kan orang bilang udah nggak apa-apa Amerika kayak gitu.
00:32:08Kita kan gabung BRICS-BRICS biar kuat.
00:32:10Alah saya bilang.
00:32:11Kung Rusi aja nggak dikenakan tari sama Trump.
00:32:14Coba dia nggak dikenakan tari.
00:32:16Mungkin Trump juga pintar juga.
00:32:18Saya adu domba.
00:32:19Iya kan?
00:32:20Supaya BRICS itu nggak kuat.
00:32:22Karena apa?
00:32:23Sekarang ini OECD yang tadinya kan kelompok negara-negara maju.
00:32:28Dan mereka pasti satu langkah, satu irama.
00:32:31Di antara mereka aja udah berantem.
00:32:33Iya kan dengan kelakuan Trump ini.
00:32:35Pokoknya Trump intinya adalah gini.
00:32:37Dunia dia akan pura-pura datang.
00:32:40Supaya jatuh semua.
00:32:42Nah nanti dia akan datang semua.
00:32:44Tata Allah.
00:32:46Ke Trump.
00:32:47Dia bilang ayo Trump tolong minta ini dan sebagainya.
00:32:49Dan Trump tahu bahwa dia akan melakukan ini nggak mungkin cukup dengan 4 tahun.
00:32:53Jadi sekarang ada keinginan untuk mengubah konstitusi.
00:32:57Oh.
00:32:58Jadi tiga kali.
00:32:59Saya pikir cuma di Indonesia saja.
00:33:03Ternyata di sana Trump juga pengen nabah lagi.
00:33:06Ada lah pemikiran-pemikiran karasana terkait dengan amanemen terhadap konstitusi.
00:33:13Segini menyebut di diskusi satu meja kalau nggak salah beberapa pekat lalu.
00:33:18Gaya Trump ini mirip kayak neoimperalisme gitu.
00:33:22Kalau profi gimana nilainya?
00:33:24Ya.
00:33:25Yang pasti adalah kalau Trump maunya si Amerika besar lagi.
00:33:30Nah besar itu kan dulu dia sebagai imperial gitu kan.
00:33:33Sebagai kayak kekaisaran tapi nggak kayak Eropa dimana secara fisik memang ada gitu kan.
00:33:40Dulu itu orang berpaling pada Amerika Serikat.
00:33:43Sekarang orang udah mulai meninggalkan Amerika Serikat.
00:33:48Nggak melihat gitu bahwa Amerika Serikat sekuat dulu.
00:33:51Nah sehingga Trump mau kembalikan itu.
00:33:53Nah tentu suatu ketika nanti kalau misalnya ini berhasil ya iyalah semua negara akan neoimperalisme.
00:34:01Nggak dalam bentuk fisik kolonialisme kayak gitu ya.
00:34:04Tetapi segala sesuatu Amerika.
00:34:07Sekarang kan dia marah ketika akan ada ide dari BRICS untuk mengintrodusir currency lain selain dolar Amerika.
00:34:16Ya udah wanti-wanti kamu lakukan itu saya akan kenakan tarif.
00:34:20Pokoknya sekarang mainnya ditarif terus deh.
00:34:24Nah ini kalau ngomong-ngomong negosiasi tadi.
00:34:27Dipengaruhi nggak sama?
00:34:28Berpengaruh juga nggak?
00:34:29Dua tahun posisi kedubes kita kan kosong dari sana.
00:34:32Tadi kan sebenarnya harusnya kalau ada bisa jadi tim advance lah untuk ngobrol dulu sama ini.
00:34:38Ini gimana dua tahun kosong kenapa kira-kira lama banget gitu?
00:34:41Ada apa sih sebenarnya Prof?
00:34:43Sebenarnya sih kalau yang saya dengar kan kita sudah memunculkan nama sebenarnya ke DPR waktu dibawa Pak Jokowi.
00:34:50Siapa tuh Pak?
00:34:51Pak Wisnu Taman.
00:34:52Sudah dimunculkan, sudah beredar namanya tinggal fit and proper.
00:34:57Tapi kan waktu itu jumlahnya cukup besar ya.
00:34:59Nah untuk pos-pos yang penting kelihatannya mau menunggu apa yang diinginkan oleh Bapak Presiden supaya ada chemistry.
00:35:06Benar juga sih seperti itu.
00:35:08Nah sehingga di hold dulu untuk pos-pos tertentu yang terutama yang besar-besar termasuk yang Amerika.
00:35:15Nah sehingga proses itu sampai hari ini masih belum dilakukan lagi.
00:35:19Tapi kalau misalnya ditanya apakah ada pengaruh sih ya pasti ada pengaruh.
00:35:24Iya dengan kondisi seperti ini kan juga harusnya.
00:35:26Iya.
00:35:27Jadi kalau misalnya pemerintah Amerika.
00:35:28Siapa yang datang?
00:35:29Biar satek gitu.
00:35:30Itu kan kuasa usaha ad interim DCM nya.
00:35:33Wah kan kamu gak dilantik sama presiden.
00:35:35Bener kamu atas nama presiden kan gitu kan.
00:35:37Iya.
00:35:38Makanya duta besar biasanya yang dilantik oleh presiden itu statusnya menjadi duta besar berkuasa penuh.
00:35:43Nah kan.
00:35:45Jadi mereka ini yang akan ketemu sama menteri, menteri akan menerima.
00:35:50Ya sama kalau misalnya apa namanya di Indonesia kita gak bisa sembarangan misalnya duta besar saya mau ketemu sama eselon tiganya gitu.
00:36:02Terlalu rendah.
00:36:03Tapi juga kalau misalnya duta besar ketemu sama menteri gitu ya harus ada prosedur juga gitu.
00:36:09Gak bisa duta besar ketemu sama presiden tuh gak bisa kecuali ada acara-acara itu.
00:36:13Jadi ada protokolnya sih sebenarnya.
00:36:15Nah jadi ada kaitannya memang.
00:36:18Tapi kalau sudah yang sekarang ini yang soal tarif ini.
00:36:21Ya paling tinggal mau dapet nomor urutan berapa gitu kan.
00:36:25Karena banyak negara yang udah dateng nih kan.
00:36:27Tapi kan itu klaimnya Trump Pak Bro.
00:36:31Iya.
00:36:32Tapi kalau menurut analisa Provik nih.
00:36:35Ini kan di JIT mundur lagi.
00:36:37Trump ini kan mulakin melunak, melunak, melunak gitu loh.
00:36:39Setidaknya kita lihat dengan JINA gitu kan.
00:36:43Ada kemungkinan gak misalnya Trump itu akan balik kanan?
00:36:48Jinanya dengan JINA tapi juga dengan negara-negara yang lain?
00:36:51Iya.
00:36:52Menurut saya sih ada kemungkinan untuk itu.
00:36:54Walaupun Trump sekarang masih egonya masih tinggi ya.
00:36:57Sekarang JINA kan akan mengenakan 145%.
00:37:01Sama Trump bilang barang dari JINA kena 245%.
00:37:04Nah secara lagi-lagi itu.
00:37:06Tapi JINA bilang ini udah gak make sense gitu.
00:37:08Dan orang bilang ini udah gak make sense.
00:37:10Kita udah ngawur-ngawuran kalau kayak begini nih.
00:37:12Kan gak harusnya kita lakukan seperti ini.
00:37:14Tapi pada satu titik tertentu.
00:37:16Kalau misalnya itu akan berdampak pada rakyat Amerika.
00:37:19Ya terus kemudian rakyat akan marah gitu ya.
00:37:22Terus berdampak pada bursa.
00:37:24Bursa akan menghajar Trump.
00:37:25Bukannya tidak mungkin.
00:37:26Trump akan balik kanan.
00:37:28Jadi bukan karena pressure dari luar.
00:37:30Tapi justru dari dalam gitu ya.
00:37:32Sekarang ini ya.
00:37:34Harvard kan juga ini.
00:37:36Kayak JINA ngelawan Trump.
00:37:38Oh iya?
00:37:39Iya.
00:37:40Pertesan masuk video juga ikut ngelawan.
00:37:42Sebagai lulusan Harvard.
00:37:44Jadi karena Trump bilang.
00:37:47Pokoknya perguruan-perguruan tinggi di Amerika.
00:37:51Harus mengikuti misalnya value-nya Amerika dan lain sebagainya.
00:37:54Value-nya Amerika itu salah satunya adalah gak boleh mendukung.
00:37:57Mendukung Palestina gitu kan.
00:37:59Jadi orang-orang Amerika sekarang.
00:38:01Mana freedom of peace-nya?
00:38:03Mana ini?
00:38:04Demokrasi.
00:38:05Jadi saya ngeliat.
00:38:06Amerika Serikat di bawah Trump.
00:38:08Itu dari first world.
00:38:10Negara pertama.
00:38:11Menjadi third world.
00:38:12Udah otoriter.
00:38:14Gak ada demokrasi.
00:38:16Orang bisa ditangkap di tengah jalan.
00:38:18Itu kan aisnya yang imigrasi.
00:38:19Itu bisa nangkep aja di tengah jalan.
00:38:21Ya kan?
00:38:22Jangan nanti Gus tanya sama saya.
00:38:24Berani ke Amerika?
00:38:25Gak usahlah ngapain juga ke Amerika.
00:38:27Udah stay aja di Indonesia.
00:38:28Karena lu saya di Boston, Prof.
00:38:30Itu gelombang nunjuk rasa luar biasa.
00:38:32Dan saya pikir kok jadi lebih parakaian dari Indonesia ya?
00:38:36Maksudnya kalau di Indonesia kan kita udah awam ngeliat.
00:38:38Ada yang demo ditangkep-tangkepin.
00:38:40Di sana juga ternyata lebih banyak.
00:38:42Kemarin di Boston.
00:38:43Ya gas air mata kemana-mana.
00:38:45Ditarik-tarikin bajunya gitu.
00:38:47Nah ini bener tadi jadi third world jadinya.
00:38:49Third world jadinya.
00:38:50Nah itu makanya.
00:38:51Saya tadi nunggu nih.
00:38:53Ini orang-orang pintar Amerika yang di Harvard dan lain sebagainya.
00:38:56Bodoh juga gak kalau ngadepin pemerintahan kayak begini kan?
00:38:59Bersuara gak?
00:39:00Akhirnya mereka bersuara.
00:39:01Mereka ini.
00:39:03Bukan berarti kalau UI gak bersuara.
00:39:05Dari UI nih.
00:39:07Iya, iya, iya, iya.
00:39:09Iya kan?
00:39:10Oh iya tangkutnya sebelum ditembang saya tebak dulu gitu.
00:39:12Soalnya dari muletnya udah mau liat kan.
00:39:14Oh iya bersuara untuk Indonesia.
00:39:17Demo kan mahasiswa demo.
00:39:19Masih.
00:39:20Ada dewan guru besar.
00:39:24Tapi gini Prof, itu memang satu hal agak setback ya dalam konteks demokrasi ya.
00:39:31Yang dulunya dia jadi kampium demokrasi, kampium HAM.
00:39:35Ternyata ujung-ujung kayak gini.
00:39:37Ini kan jadi apa ya?
00:39:38Jadi mempermalukan sebenarnya.
00:39:39Mempermalukan para aktivis demokrasi juga yang selama ini bertirah tentang itu-itu loh.
00:39:44Nah cuman satu hal Prof.
00:39:45Misalnya kita bicara soal positioning Indonesia misalnya.
00:39:50Kan posisi sebuah negara itu kan dibentukan bagaimana pemimpinnya itu membangun hubungan dan membangun marwah bangsa dalam konteks hubungan internasional.
00:40:03Nah di era Soekarno bukan main Indonesia misalnya kan.
00:40:07Apa positioningnya gitu loh.
00:40:08Dan di beberapa persen berikutnya.
00:40:10Nah kalau di era Prabowo ini menurut Prof.
00:40:14Kira-kira apakah Indonesia akan menjadi negara yang dalam tarif utif dianggap gitu ya.
00:40:19Dan diberhitungkan oleh negara-negara lain.
00:40:22Ya kalau dari segi formalitasnya ya Pak Prabowo luar biasa.
00:40:26Kenapa?
00:40:27Misalnya ketika Presiden Turki datang menyambut langsung di pesawat.
00:40:32Itu secara protokoller sebenarnya nggak bisa tuh.
00:40:35Seharusnya ada Menteri atau siapa.
00:40:37Nah beliau menunggu di istana.
00:40:39Tapi ini kan untuk menunjukkan kedekatan.
00:40:42Ya kan?
00:40:43Lalu iring-iringan membawa tamunya juga beda gitu ya.
00:40:47Lalu kemudian pada waktu Pak Prabowo ke Turki.
00:40:51Mungkin Pak Erdogan nggak enak juga.
00:40:53Langsung sambutannya juga bagus.
00:40:55Artinya itu dari segi itunya bagus.
00:40:57Ya.
00:40:58Cuman sekarang permasalahnya dari segi substansinya nih.
00:41:01Nah itu.
00:41:02Nah dari segi substansinya.
00:41:03Kukurnya sederhana.
00:41:04Tim negesiasi kita bakal diterima dan berhasil nggak?
00:41:07Nah misalnya seperti itu.
00:41:09Terus kemudian bagaimana para investor yang datang dari timur tengah itu bener-bener akan datang.
00:41:16Dan percaya pada Indonesia begitu.
00:41:19Dan kemudian bagi rakyat tentu ya kebijakan luar negeri ini dan Pak Prabowo keluar yang terus terang biayanya sangat luar biasa ya.
00:41:30Di tengah-tengah efisiensi anggaran.
00:41:33Itu kalau nggak membuka lapangan pekerjaan ke Indonesia.
00:41:36Rugi ya?
00:41:37Iya rugi.
00:41:38Karena kan idenya adalah bagaimana lapangan pekerjaan itu terbuka.
00:41:42Bagi manapun negara sekarang adalah masa-masa the test of survival.
00:41:49Kita harus bisa survive dalam kondisi apapun.
00:41:52Nah kalau misalnya kita Indonesia melakukan ini itu tapi tidak kemudian berdampak.
00:41:57Berdampak.
00:41:58Tidak konkret dan tidak membuat rakyatnya survive.
00:42:01Nggak ada artinya.
00:42:03Nggak ada artinya.
00:42:04That's point-nya ya.
00:42:06Point-nya seperti itu gitu ya.
00:42:07Mau keliling belak-balik kalau misalnya nggak ada berdampak secara ekonomi misalnya.
00:42:14Itu ya itu hanya pembiayaan bukan investasi ya.
00:42:17Bukan investasi ya.
00:42:18Kalau istilah orang ekonominya gitu.
00:42:19Sekarang itu kan bukan era yang ideologinya barat timur gitu.
00:42:22Nggak lagi kayak begitu.
00:42:24Nah sekarang udah pokoknya ya orang bilang alirannya udah realisme.
00:42:28Kenyataannya seperti apa?
00:42:30Apa yang kita butuh?
00:42:31Mana yang realistis diikuti?
00:42:32Mana yang realistis untuk kepentingan rakyat kita itu yang jadi patokan kita.
00:42:35Ini ada komen lagi nih bro.
00:42:36Dari yang nonton kita nih di Podcast Lanturan.
00:42:39Madeleine.
00:42:40Amerika sekutu takut dengan aliansi Indonesia-Rusia dan Timur Tengah.
00:42:43Katanya.
00:42:44Bener gitu bro?
00:42:45Kalau di bawah Trump sih nggak lah.
00:42:50Dia bilang pasti nggak akan ada yang ditakutin gitu.
00:42:52Sikat-sikat aja.
00:42:53Kalau Donald Trump sih dia bilang nggak katanya.
00:42:56Dia akan lawan.
00:42:57Dan dia adalah sekutu bagi Israel.
00:43:00Apapun yang diminta oleh Israel akan dituruti.
00:43:04Tapi bukannya semua Presiden Amerika seperti itu bro?
00:43:07Ya gradasinya beda.
00:43:09Jadi memang bahwa Amerika berada di belakang Israel.
00:43:14Iya.
00:43:15Tapi gradasinya beda.
00:43:16Kalau Joe Biden masih bisa nasehatin ke Netanyahu.
00:43:21Ketika Netanyahu mau ngabisin.
00:43:23Terus kan waktu dulu kamu diserang sama Jepang secara mendadak.
00:43:27Kamu bom.
00:43:29Jatuhkan di Hiroshima Nagasaki.
00:43:31Nah Biden bilang.
00:43:33Ya tapi kan itu sebelum ada PBB.
00:43:35Setelah ada PBB.
00:43:37Ada respect terhadap human rights dan lain sebagainya.
00:43:40Udah kita nggak boleh lagi kayak begitu.
00:43:42Dan saya minta kamu nggak lakukan itu.
00:43:44Nah ada omongan kayak gitu.
00:43:46Tapi kalau sama Donald Trump nggak kipas terus.
00:43:48Udah lawan aja katanya.
00:43:50Habisin aja.
00:43:51I don't care.
00:43:52I don't care.
00:43:53Yang penting great again.
00:43:55Great again tapi topinya bikin made in China.
00:43:58Nah itu kemarin ada jurubicara.
00:44:01Dari apa namanya.
00:44:02Kepresidenan Amerika ya kan.
00:44:04Pakai bajunya katanya.
00:44:05Terus dicepret.
00:44:06Terus katanya.
00:44:07Oh ini buatan China nih katanya.
00:44:09Ada yang bilang lagi.
00:44:11Yang orang Amerika yang dukung Trump kayaknya.
00:44:13Enggak.
00:44:14Itu perusahaan China yang ngopi dari Amerika punya.
00:44:17Tapi saya juga nggak.
00:44:19Tadi sempat disinggung nama Elon Musk.
00:44:21Saya pengen nanya juga ke Prof sebenarnya.
00:44:22Penasaran juga.
00:44:23Kalau menurut pandangan Prof.
00:44:24Posisinya Elon Musk di pemerintahnya Trump nih.
00:44:27Buat dunia apa sih ininya.
00:44:29Apa namanya.
00:44:31Manfaatnya kira-kira ada nggak manfaat.
00:44:33Jangan-jangan malah.
00:44:34Yang pasti dunia juga marah juga.
00:44:35Marah kan.
00:44:36Marah.
00:44:37Rakyat Amerika marah.
00:44:38Dan marahnya itu.
00:44:39Dia mereka merusak showroom-showroom Tesla gitu kan.
00:44:43Mobil-mobil Tesla gitu kan.
00:44:45Nah.
00:44:46Sehingga sekarang Trump paham betul.
00:44:48Bahwa orang nggak suka sama Elon Musk.
00:44:51Dia agak menjauh.
00:44:52Nah.
00:44:53Dia kan tadinya mimpin nih kementerian Dodge itu kan.
00:44:56Department of Efficiency ya.
00:44:58Efficiency.
00:44:59Nah.
00:45:00Terus.
00:45:01Sekarang ini kelihatannya udah agak mundur sih.
00:45:03Siapa?
00:45:04Trump.
00:45:05Nah.
00:45:06Karena ini dia tahu kayaknya nggak akan bagus untuk dia gitu ya.
00:45:09Tapi soalnya apa dengan adanya Elon Musk yang memphk pegawai negeri dan sebagainya.
00:45:16Itu para pendukung Trump.
00:45:17Partai-partai republik itu.
00:45:18Berbalik.
00:45:19Berbalik.
00:45:20Mereka bilang.
00:45:21Enggak ini nggak bisa.
00:45:22Mereka sekarang ikut turun ke jalan.
00:45:23Tapi.
00:45:24Nggak hanya di luar negeri menutup-nutup dealer Tesla lo bro.
00:45:27Minggu lalu saya di US.
00:45:28Lucu nih.
00:45:29Yang punya mobil Tesla.
00:45:30Itu dia pasang pelang.
00:45:32This car I've bought before I vote.
00:45:35Beneran itu.
00:45:36Sampai ada saya fotonya.
00:45:38Makanya bukan hanya warga dunia bukan.
00:45:40Pertama warga di US juga.
00:45:42Amerika iya.
00:45:43Marah.
00:45:44Marah.
00:45:45Sama Elon Musk itu kan.
00:45:47Karena cutting budget itu.
00:45:50Itu.
00:45:51Waduh.
00:45:52Dampaknya kemana-mana.
00:45:53Sekarang iya.
00:45:54USAID sekarang.
00:45:55Sama dong Indonesia juga aja.
00:45:56Dampaknya kemana-mana sih.
00:45:57Saya nggak alih hikm Indonesia.
00:46:00Saya nggak bisa banyak bicara.
00:46:02Gusnya udah hang.
00:46:04Jadi gini.
00:46:06Jadi misalnya USAID.
00:46:08USAID itu di stop sama Trump.
00:46:10Padahal USAID itu sebagai alat untuk hegemoninya Amerika.
00:46:15Punya pengaruh di berbagai negara.
00:46:18Ya kan.
00:46:19Itu.
00:46:20Terus voice of America.
00:46:22Itu untuk hegemoninya.
00:46:23Untuk dulu mendoktrinasi rakyat.
00:46:26Sekarang stop juga.
00:46:27Gitu kan.
00:46:28Saya nggak tau mungkin VOA juga ngelawan-ngelawan Trump juga suaranya.
00:46:31Gitu kan.
00:46:32Tapi kan mungkin memang itu dilakukan karena Trump mungkin udah menganggap bahwa itu udah tidak relevan.
00:46:38Misalnya kan.
00:46:39Karena tadi Prof juga sampaikan bahwa hari ini kita udah ada ideologi gitu kan.
00:46:44Udah nggak ada Timur Barat misalnya.
00:46:46Sehingga mungkin itu dianggap sebagai boros-borosin duit tuang.
00:46:51Buat buang duit tuang gitu loh.
00:46:52Mending buat yang lain.
00:46:53Seperti itu.
00:46:54Dan cuman pertanyaannya menjadi menarik Prof.
00:46:56Ketika tadi Prof bilang bahwa lama-lama ini Trump ini justru bukan hanya tidak disukai oleh warga internasional.
00:47:04Tapi oleh warga negara mereka dan para pemilihnya sendiri gitu loh.
00:47:08Nah mungkin nggak Prof.
00:47:10Kalau ini terus menerus terjadi gelombang penolakan, gelombang perlawanan segala macam.
00:47:16Akan berujung pada impeachment misalnya.
00:47:19Sangat bisa.
00:47:20Sebenarnya gini ya.
00:47:21Tadi kan dibilang mungkin nggak relevan lagi.
00:47:23Saya setuju.
00:47:24VOA gitu ya.
00:47:25Atau mungkin use it gitu ya.
00:47:27Tapi harusnya secara gradual.
00:47:29Kalau Trump kan nggak hari ini selesai.
00:47:32Jadi orang yang masih kerja.
00:47:34Orang yang ke Myanmar katanya ngurusin.
00:47:36Ada yang gempa.
00:47:38Tiba-tiba stop gitu kan.
00:47:39Itu ngapain?
00:47:40Ada kawan juga gitu.
00:47:41Tiba-tiba harus pulang.
00:47:42Dan nggak diurus.
00:47:44Nggak diurusin.
00:47:45Gajinya nggak jelas.
00:47:46Nggak dibeli tiket udah.
00:47:48Nah itu.
00:47:49Itu yang membuat orang sebenarnya marah.
00:47:52Mereka tahu ada efisiensi.
00:47:54Tapi kan harus ada komunikasi yang baik ke rakyatnya.
00:47:57Kenapa seperti itu dan lain sebagainya.
00:47:59Nah ini yang membuat orang jadi kecewa.
00:48:05Disatisfied.
00:48:07Dan biasanya kalau udah kecewa kayak begini kan tinggal turun.
00:48:11Ya rakyatnya turun ke jalan demo.
00:48:14Terus kemudian dorong DPR-nya.
00:48:18Parlemennya untuk melakukan impeachment.
00:48:20Tapi kalau misalnya dilakukan impeachment.
00:48:22Vice Presiden juga nggak bagus-bagus juga.
00:48:24Di Amerika tuh.
00:48:25Si fans itu.
00:48:26Kok sama ya Prof?
00:48:28Saya ini kali terkait dengan masalah Indonesia.
00:48:32Gak kan saya juga ngapain Indonesia.
00:48:34Saya cuma bilang kok sama.
00:48:36Meski Mindy cocok lagi itu tadi.
00:48:38Coba cocok lagi aja.
00:48:40Coba cocok lagi aja.
00:48:42Tapi kalau ngomongin tadi.
00:48:52Resistensi di Amerika yang begitu besar.
00:48:54Kita sebenarnya kan punya apa ya.
00:48:56Punya gelagat yang sama nih.
00:48:58Di dalam negeri.
00:49:00Beberapa waktu kebelakang lah.
00:49:02Bulan-bulan sebelum lebaran itu kan.
00:49:04Gelombang demonstrasi juga besar.
00:49:08Ada nggak sih pengaruhnya kira-kira dari Amerika Serikat misalnya.
00:49:14Sebagai negara yang besar.
00:49:15Negara yang kuasa lah yang bilang.
00:49:16Kita juga kan banyak sekali melihat.
00:49:18Menyaksikan info-info.
00:49:20Ada nggak pengaruhnya ke rakyat kita misalnya.
00:49:22Kalau resistensi itu terus menggelora gitu di Amerika.
00:49:26Terus akhirnya wah keidoan Indonesia juga kayaknya dalam kondisi seperti ini.
00:49:30Terhimpit begini.
00:49:32Harus ada gerakan.
00:49:34Kayaknya mirip-mirip memang.
00:49:38Sebenarnya gini.
00:49:39Nggak hanya di Indonesia atau di Amerika ya.
00:49:41Di beberapa negara.
00:49:43Bahkan di Eropa.
00:49:44Itu terjadi seperti ini.
00:49:46Seperti ini gimana?
00:49:47Seperti ini maksudnya ada presiden-presiden yang memunculkan ide-ide besar.
00:49:52Ide-ide besar tanpa melakukannya secara gradual.
00:49:57Tanpa resening yang cukup.
00:49:59Tanpa resening yang cukup.
00:50:01Mengkomunikasikannya itu ke masyarakat.
00:50:03Begitu kan.
00:50:05Nah ini yang terus kemudian muncul jadi permasalahan.
00:50:09Ya kalau misalnya ada yang bilang.
00:50:11Oh ini ekstrimnya kanan banget gitu kan.
00:50:14Dalam pemerintahan ya.
00:50:15Bukan ekstrim kanan dalam konteks radikalisme dan lain sebagainya.
00:50:18Tapi dalam pemerintahan.
00:50:19Yang dia bilang bahwa kita harus besar.
00:50:23Nah kalau bisa.
00:50:25Kita yang mendikti dunia.
00:50:27Bukan dunia yang mendikti kita.
00:50:28Itu banyak.
00:50:29Harus jadi macan Asia.
00:50:31Saya nggak komentar.
00:50:34Nah jadi seperti itu ada.
00:50:41Nah sekarang pemilih itu di awal.
00:50:45Memang dia akan mempersepsikan.
00:50:47Oh ini nih.
00:50:48Figur dari pemimpin yang saya butuhkan.
00:50:50Termasuk di Amerika Serikat.
00:50:52Tapi kan di Amerika emang ada bansosrop.
00:50:54Tapi di Amerika ada tembak-tembakan gitu kan.
00:50:59Yang membuat orang bilang.
00:51:01Oh iya memang harus saya pilih.
00:51:03Tapi ketika dipilih ternyata aku kayak begini.
00:51:06Ya kan.
00:51:07Terus kecewa.
00:51:08Makanya itu ketika kita sudah ada di atas sana.
00:51:12Bagaimana memanage ekspektasi.
00:51:15Memanage ekspektasi ini sangat penting.
00:51:17Dari satu pemilihan ke pemilihan yang berikutnya.
00:51:20Itu selalu isunya adalah.
00:51:22Managing expectation.
00:51:24Karena ekspektasinya sudah terlalu tinggi.
00:51:26Harapan.
00:51:27Harapan masyarakat terlalu tinggi.
00:51:29Ternyata di sini.
00:51:30Wah bermasalah dan sebagainya.
00:51:32Wah.
00:51:33Tapi mau bukannya memang.
00:51:35Apa.
00:51:36Ya.
00:51:37Tugasnya atau kerjanya politisnya.
00:51:38Memang seperti itu ya.
00:51:39Jualan harapan.
00:51:40Hehehe.
00:51:41Tidak hanya di sana.
00:51:42Tapi juga di Indonesia.
00:51:43Saya kira kan.
00:51:44Pertanyaan kan.
00:51:45Apakah harapan-harapan itu menjadi kenyataan.
00:51:47Atau hanya.
00:51:48Sahapan jempol belaka.
00:51:50Kan seperti itu.
00:51:51Betul.
00:51:52Betul.
00:51:53Betul.
00:51:54Betul.
00:51:55Jadi menurut saya ya.
00:51:56Seharusnya memang.
00:51:57Siapapun pemerintahan.
00:51:58Dan kalau kita bicara misalnya.
00:51:59Di Amerika.
00:52:00Misalnya ada demo.
00:52:01Di Indonesia kan.
00:52:02Ya dalam beberapa.
00:52:03Hal juga terjadi.
00:52:04Hal yang sama sebanyak kan.
00:52:05Misalnya terkait dengan.
00:52:06Dulu yang TNI kemarin.
00:52:07Itu kan gelombang.
00:52:08Aksi unjuk rasanya juga bukan main kan.
00:52:09Ya.
00:52:10Dan itu tidak menutup kemungkinan.
00:52:11Hal yang sama juga akan terjadi.
00:52:12Ketika ada kebicaraan-kebicaraan.
00:52:13Yang dianggap.
00:52:14Tidak sesuai dengan harapan masyarakat.
00:52:15Betul.
00:52:16Betul.
00:52:17Jadi menurut saya ya.
00:52:18Seharusnya memang.
00:52:20Siapapun pemerintahan.
00:52:22Itu harus melihat.
00:52:23Respon masyarakat.
00:52:25Jangan terlalu memaksakan diri.
00:52:29Kita sih ingin bahwa.
00:52:31Semua negara.
00:52:32Semua pemimpin pasti ingin.
00:52:33Negaranya itu sejahtera.
00:52:35Ya kan.
00:52:36Cuman kadang-kadang yang namanya masyarakat itu.
00:52:38Karena gak sabar menunggu.
00:52:40Sampai kapan nih sejahteranya.
00:52:42Sampai kapan kita harus ikat pinggang.
00:52:44Sampai kapan kita dalam kondisi seperti ini.
00:52:46Nah itu yang terus kemudian.
00:52:48Siapapun yang jadi pemimpin.
00:52:50Dia harus melakukannya secara graduat.
00:52:53Nah.
00:52:54Kayak Amerika Serikat.
00:52:55Saya lihat.
00:52:57Walaupun dari Republik.
00:52:58Dari Demokrat.
00:52:59Dari luar.
00:53:00Kalau Amerika Serikat.
00:53:01Pasti kita bilang.
00:53:02Amerika ya kayak begitu.
00:53:04Sebelum termasuk.
00:53:06Setelah termasuk.
00:53:07Orang pada bingung semua.
00:53:08Kok Amerika.
00:53:10Kayak tadi yang saya bilang.
00:53:11Third world countries ya.
00:53:12Bukan lagi first world.
00:53:13Gitu kan.
00:53:14Jadi sekarang kalau kita menganalisa.
00:53:17Suatu negara itu.
00:53:18Jangan lihat.
00:53:19Negara ini kayak apa gitu ya.
00:53:21Tapi siapa yang duduk disitu.
00:53:23Tapi pertanyaan benar gini Prof.
00:53:24Gini loh.
00:53:25Kalau misalnya.
00:53:26Saya menggunakan termalama ya.
00:53:28Apa dunia ketiga misalnya.
00:53:30Kalau dunia ketiga misalnya.
00:53:32Memilih pemimpin yang.
00:53:34Cenderung otoriter misalnya.
00:53:36Totalitarian.
00:53:37Itu kan dianggap.
00:53:39Sebagai sesuatu yang.
00:53:40Bisa dimalumi.
00:53:41Mungkin karena.
00:53:42Mereka belum terdidik.
00:53:43Secara politik.
00:53:45Secara ekonomi juga belum secara teras.
00:53:47Sehingga bisa dibeli misalnya kan.
00:53:49Untuk apa.
00:53:50Suara segala macem.
00:53:51Tapi ini Amerika loh.
00:53:53Yang orang menganggap.
00:53:55Ini masyarakat.
00:53:56Negara yang sudah maju.
00:53:57Sudah terdidik.
00:53:58Secara ekonomi juga sudah bagus.
00:54:00Kok bisa.
00:54:01Memilih pemimpin yang dianggap.
00:54:03Terkesan ya.
00:54:05Terkesan ya itu tadi.
00:54:07Agak ngawur gitu loh.
00:54:08Sakar PDW.
00:54:09Terus.
00:54:10Cenderung totaliter misalnya kan.
00:54:1258% lagi.
00:54:13Jadi kalau menurut saya sih.
00:54:15Karena.
00:54:16Generasi Amerika.
00:54:18Nggak seperti yang zaman dulu.
00:54:20Yang mereka itu intelektual.
00:54:22Teredukasi dengan baik.
00:54:23Dan lain sebagainya.
00:54:24Sekarang ini.
00:54:26Banyak nih ya.
00:54:29Perguruan-perguruan tinggi di Amerika.
00:54:31Itu.
00:54:32Apa namanya.
00:54:33Yang menjadi.
00:54:34Gantungan itu sebenarnya.
00:54:36Mahasiswa asing.
00:54:37Oh.
00:54:38Biayanya lebih besar.
00:54:39Kalau mahasiswa.
00:54:41Dari Amerika sendiri.
00:54:42Malah jarang.
00:54:43Mereka lebih pragmatis.
00:54:45Udah.
00:54:46Lulus SMA.
00:54:47Kadang-kadang nggak lulus.
00:54:48Pokoknya saya.
00:54:49Mau jadi musisi.
00:54:50Mau jadi pemain basket.
00:54:51Mau jadi ini.
00:54:52Amerika-Filling University itu.
00:54:53Sekarang banyak kan.
00:54:54Justru yang dari luar.
00:54:55Dari luar.
00:54:56Makanya sekarang.
00:54:57Dengan.
00:54:58Dengan kebijakan Trump.
00:54:59Sangat hostile ya.
00:55:00Ya.
00:55:01Kepada.
00:55:02Mahasiswa asing dan sebagainya.
00:55:03Itu yang teriak.
00:55:04Itu adalah.
00:55:05Mereka.
00:55:06Karena sekarang ini.
00:55:07Banyak mahasiswa-mahasiswa.
00:55:08Calon mahasiswa kita.
00:55:09Yang mau pergi ke Amerika.
00:55:10Terutama yang.
00:55:11Biasiswanya Ayah Bunda nih ya.
00:55:13Bapak Ibu.
00:55:14Mbak Ibiya sendiri.
00:55:15Itu mereka mikir dua kali.
00:55:16Kalau ke Amerika.
00:55:17Karena mereka bilang.
00:55:19Saya nggak akan mau nih.
00:55:20Menghadapi masalah-masalah seperti ini.
00:55:21Padahal mereka di charge-nya itu.
00:55:23Sangat besar.
00:55:24Bahkan mahasiswa Cina.
00:55:26Itu banyak tuh ke Amerika.
00:55:27Tapi dengan kondisi seperti ini.
00:55:29Mereka mungkin nggak diperbolehkan sama pemerintahnya.
00:55:32Ya kan.
00:55:33Dan itu yang akan hurting adalah.
00:55:36Universitas.
00:55:37Maka seperti Harvard sekarang ini.
00:55:39Mereka berani speak up.
00:55:40Ya.
00:55:41Karena.
00:55:42Ini masalah survival untuk dia.
00:55:43Ya kan.
00:55:44Maka tadi saya bilang.
00:55:45Ini survival nih.
00:55:46Sekarang.
00:55:47Zaman sekarang.
00:55:48Zaman survival.
00:55:49Jadi kalau misalnya mereka nggak speak up.
00:55:50Dia hanya mengikuti kebijakan dari pemerintahnya.
00:55:53Ya selesai.
00:55:54Universitas-universitas itu nggak dapet ya.
00:55:56Ya kan.
00:55:57Kita tahu juga.
00:55:58Generasi muda sekarang kan zero growth.
00:56:00Boleh dibilang zero growth lah.
00:56:01Artinya.
00:56:02Mereka nggak mau punya anak.
00:56:03Mau.
00:56:04Jadi.
00:56:05Universitas itu tuh apa.
00:56:06Udah besar-besar kayak begitu.
00:56:07Kalau bukan yang dari luar.
00:56:08Nah.
00:56:09Sebenarnya kalau dari Indonesia kan kita seneng-benar.
00:56:10Oh saya diterima Harvard.
00:56:11Saya selalu bilang.
00:56:12Eh.
00:56:13Diterimanya Harvard.
00:56:14Pada zaman dulu.
00:56:15Dulu.
00:56:16Dengan yang sekarang.
00:56:17Beda.
00:56:18Kalau dulu itu benar-benar kamu.
00:56:20Waduh luar biasa lah begitu ya.
00:56:22Bisa keterima di Harvard.
00:56:23Kalau di UI gimana bro?
00:56:24Sama juga sih.
00:56:25Hahaha.
00:56:26Hahaha.
00:56:27Hahaha.
00:56:28Hahaha.
00:56:29Ya artinya waktu zaman saya diterima di UI.
00:56:31Lain sama menurut saya ya.
00:56:32Ya.
00:56:33Zaman sekalang anak diterima di UI.
00:56:34Kalau zaman dulu kan.
00:56:35Oh pasti negeri gitu ya.
00:56:37Wah ini dan sebagainya.
00:56:38Udah itu kita dapet.
00:56:39Gratis murah gitu kan.
00:56:41Karena negara mau bayar.
00:56:42Iya.
00:56:43Kalau sekarang kan banyak jalur yang kita bisa masuk.
00:56:45Iya.
00:56:46Iya.
00:56:47Dan kalau sekarang belajarnya kayak apa patah dulu.
00:56:50Pergilah belajar sampai ke negeri Cina.
00:56:52Jangan ke Amerika.
00:56:54Hahaha.
00:56:55Tapi memang.
00:56:56Tapi Amerika sekarang juga udah mulai juga.
00:56:58Cari-cari mahasiswa dari luar negeri.
00:56:59Oke.
00:57:00Cina juga bagus loh.
00:57:01Karena zero group.
00:57:02Mereka udah zero group juga bagus.
00:57:03Cina juga bagus ke pendidikannya kok.
00:57:05Iya.
00:57:06India juga bagus gitu loh.
00:57:07Itu tadi aku bilang gitu loh.
00:57:08Ya selama ini kita.
00:57:09Kiblat kita memang.
00:57:10Terbius gitu ya.
00:57:11Bahwa.
00:57:12Apa ya.
00:57:13Semua yang.
00:57:14Apa.
00:57:15Perkemajuan ya di Amerika gitu.
00:57:17Ngomongin demokrasi.
00:57:18Ngomongin ham.
00:57:19Ngomongin pendidikan.
00:57:20Ngomongin ekonomi misalnya.
00:57:22Ngomongin peradaban.
00:57:23Bahkan misalnya.
00:57:24Rule of law.
00:57:25Rule of law.
00:57:26Bahkan dulu Amerika itu.
00:57:27Ya baru-baru ini juga.
00:57:28Sampai baru-baru ini.
00:57:29Selalu mengatakan.
00:57:30Kalau yang gak rule of law.
00:57:32Gak demokrasi.
00:57:33Itu Cina.
00:57:34Jadi kamu tuh harusnya.
00:57:35Ikut sama negara yang.
00:57:37Basenya itu.
00:57:38Rule of law.
00:57:39Demokrasi.
00:57:40Respect on human rights.
00:57:41Dan lain sebagainya.
00:57:42Ya di bawah term.
00:57:43Semua hilang.
00:57:44Semua itu.
00:57:45Ada aja.
00:57:46Tapi.
00:57:47Balik lagi deh Prof.
00:57:49Ke soal.
00:57:50Apa.
00:57:51Tim negosiasi kita.
00:57:52Kalau bayangan.
00:57:54Prof. Hik.
00:57:55Apa.
00:57:56Kira-kira.
00:57:58Bakal berhasil gak?
00:58:00Saya sih.
00:58:02Gak terlalu optimis.
00:58:03Ya.
00:58:04Berhasil.
00:58:05Tapi kalau pun berhasil.
00:58:08Sebenarnya.
00:58:09Kita ini akan dipecah belah.
00:58:11Di Asia.
00:58:12Karena kalau kita berani diturunkan.
00:58:14Ya.
00:58:15Dan kita menurunkan gitu kan.
00:58:16Malaysia kan bilang sama Indonesia.
00:58:19Atau misalnya Thailand.
00:58:20Oh kamu kayak gitu sih.
00:58:21Harusnya kan kita bersatu.
00:58:23Kalau misalnya kamu turun.
00:58:25Saya juga mau gak mau harus turun juga.
00:58:27Artinya apa?
00:58:28Terjadi ini persaingan diantara kita.
00:58:30Gara-gara Amerika aja nih.
00:58:32Gara-gara Thailand aja.
00:58:34Kalau menurut saya.
00:58:36Harusnya.
00:58:37Tim negosiasi ini.
00:58:38Jangan dulu pergi ke Amerika.
00:58:40Justru perkuat dulu.
00:58:42Di ASEAN.
00:58:43Yang dicontohkan oleh presiden itu udah benar.
00:58:46Ketemu sama Perdana Menteri Mahathir.
00:58:48Karena apa?
00:58:49Dia adalah ketua ASEAN.
00:58:51Sama-sama kita produsen sawit.
00:58:53Yang Amerika sangat tergantung.
00:58:55Ya harusnya caranya seperti itu.
00:58:57Sekarang kalau misalnya.
00:58:58Kan foodware.
00:59:00Salah satu ekspor kita ke Amerika foodware.
00:59:02Sepatu.
00:59:03Kita pikir kan.
00:59:04Wah sepatu Cibaduyut nih.
00:59:05Padahal enggak.
00:59:06Itu kan sepatu.
00:59:07Dibuat di Indonesia pabriknya.
00:59:09Tapi nanti dimerken di Amerika.
00:59:11Nike dan sebagainya.
00:59:12Vietnam juga kayak gitu.
00:59:13Maka.
00:59:14Merknya kan.
00:59:15Misalnya Nike atau made in Indonesia.
00:59:17Made in Vietnam.
00:59:18Kan gitu kan.
00:59:19Nah.
00:59:20Sekarang.
00:59:21Vietnam bilang.
00:59:22Tapi kak.
00:59:23Saya nolin kamu.
00:59:24Kamu nolin ke saya.
00:59:25Berarti kan.
00:59:26Lama-lama perusahaan Amerika pergi ke Vietnam.
00:59:29Lari dari Indonesia.
00:59:31Kok gitu sih sama-sama ASEAN.
00:59:33Iya kan.
00:59:35Nah ini nih.
00:59:36Kita nih.
00:59:37Ya.
00:59:38Tes dari survival.
00:59:39Bahwa ASEAN ini bersatu atau enggak nih.
00:59:41Tapi katanya gini.
00:59:42Kata pepatnya gitu.
00:59:43Dujuh tuh katanya gak kenal orang.
00:59:45Gak kenal teman.
00:59:46Gak kenal saudara.
00:59:47Betul.
00:59:48Apalagi tetangga.
00:59:50Apa.
00:59:51Negara.
00:59:52Iya.
00:59:53Ya kecuali kalau kayak begitu.
00:59:54Udah kalau kayak begitu.
00:59:55Udah lah.
00:59:56Lupakan MEA itu masyarakat ekonomi ASEAN.
00:59:58Masih.
00:59:59Memang juga.
01:00:00Efektivitasnya juga mungkin dianggap gak ada juga gitu kan.
01:00:03Tapi idealisme dari para pemimpin ASEAN ketika itu membentuk ASEAN dan sebagainya.
01:00:08Kita sudah tinggal.
01:00:09Jadi menurut saya kalau pun tim ini berhasil.
01:00:13Ya.
01:00:14Kita self-centered.
01:00:15Mikirin diri kita sendiri.
01:00:17Gitu.
01:00:18Ini saya bacain dua komentar lagi nih.
01:00:21Eh yang.
01:00:22Masih dari Madeleine yang tadi nih.
01:00:24Oh.
01:00:25Madeleine komentar lagi katanya.
01:00:26Menurut saya Indonesia sudah tidak relevan lagi menjadi negara non-blok.
01:00:30Melihat kacau marut.
01:00:32Eh.
01:00:33Carut-marut mungkin ya maksud.
01:00:34Melihat carut-marut situasi dunia sekarang.
01:00:36Karena aliran dunia telah berubah.
01:00:39Karena kita harus berpihak pada satu kekuatan besar katanya.
01:00:42Benar begitu bro.
01:00:43Kalau menurut saya sih kekuatan besar yang mana?
01:00:46Nah.
01:00:47Mana dulu nih.
01:00:48Kan kita gak mau milih.
01:00:49Mau ke Gina mau ke...
01:00:50Ada bro.
01:00:51Kekuatan yang sangat besar adalah kekuatan Tuhan.
01:00:53Nah itu kali itu.
01:00:54Ketemu lagi di laburan edisi berikutnya.
01:00:57Top.
01:00:58Thank you.
01:00:59Terima kasih.
01:01:00Terima kasih.
01:01:01Beli birbun lu nih bro.
01:01:04Biar aman.
01:01:07Iya.
01:01:08Iya.
01:01:09Terima kasih telah menonton!
01:01:39Terima kasih telah menonton!
01:02:09Terima kasih telah menonton!

Dianjurkan